Masalah yang Dihadapi Para Pencari Suaka di Kalideres

Masalah yang Dihadapi Para Pencari Suaka di Kalideres

Masalah yang Dihadapi Para Pencari Suaka di Kalideres – Rudenim atau Rumah Detensi Imigrasi di Kalideres, Jakarta Barat menjadi salah satu tempat yang sekarang ini mendapatkan perhatian dari pemerintah dan masyarakat sekitar. Hal tersebut dapat terjadi lantaran lokasi yang dijadikan tempat tinggal para imigran memiliki pemandangan yang cukup memprihatinkan. Bagaimana tidak? Pada saat kita berkunjung ke Rudenim Kalideres, imigran yang tinggal di tempat tersebut hidup layaknya seorang gelandangan. Para imigran tidur dengan menempati pinggiran trotoar meskipun pemerintah setempat telah menyediakan tempat tinggal berupa Rudenim. Pemadangan para imigran yang tidur di trotoar bahkan mendapatkan keluhan dari para warga yang tinggal di lokasi kejadian. Keluhan warga semakin menjadi ketika para imigran menggantungkan hidupnya dengan meminta belas kasih dari para relawan yang melewari trotoar dimana mereka tidur.

Aksi para imigran yang datang ke Indonesia tersebut dapat terjadi lantaran para pencari suaka tidak diperbolehkan untuk bekerja di Indonesia. Tidak hanya itu, pencari suaka juga tidak mendapatkan jaminan kesehatan, akses kesehatan dan pendidikan. Tanpa izin bekerja di Indonesia dan bantuan dari situs pemerintah, pencari suaka tentunya akan mendapatkan kesulitan untuk membiayai hidupnya. Seorang petugas keamanan bernama Tedjo Purwono mengatakan, pencari suaka yang tinggal di Kalideres hidup tanpa adanya harapan. Meskipun ada banyak kesulitan yang dihadapi oleh para pencari suaka di Kalideres, banyak warga yang memberikan bantuannya berupa ruang yang tidak terpakai lagi di sekitar pertokoan yang warga tinggali. Di depan rumah detensi imigrasi, ada gedung yang dimanfaatkan untuk menampung sebagian para imigran. Gedung dengan tiga lantai tersebut disekat dengan menggunakan kain yang tipis dan dilengkapi dengan triplek sisa. Gedung tersebut digunakan sebagai lokasi penampungan sementara bagi para pencari suaka yang datang ke Indonesia.

Lantai satu gedung nampak sempit dan ditinggali oleh 30 orang pencari suaka. Di lantai ini, pengunjung dapat mencium bau pesing. Karena inilah, banyak warga yang mengajukan keluhan atas para pencari suaka yang bermukim di Kalideres. Tidak hanya menimbulkan bau yang kurang sedap, pencari suaka yang dahulunya mampu menarik belas kasihan kini justru melakukan tindakan yang kurang baik bagi warga sekitar. Para pencari suaka tak segan untuk meminta barang-barang dagangan yang dimiliki oleh warga asli Kalideres. Warga asal Somalia bahkan berani berhutang namun tidak pernah membayarkan hutang yang mereka miliki kepada warga. Para pencari suaka yang datang ke Indonesia memiliki harapan untuk dapat hidup dengan lebih baik. Indonesia sendiri merupakan lokasi transit sementara para pencari suaka sebelum ditempatkan pada negara-negara baru dimana para pencari suaka dapat menetap. Untuk bertahan selama tinggal di Indonesia, pencari suaka ini memenuhi trotoar di pagi dan siang hari untuk mendapatkan bantuan dari warga sekitar.

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!